Oleh: Lutfi Abid, S.Pd.I.
Kehadiran gawai (gadget) digital di lingkungan sekolah bak pisau bermata dua bagi dunia pendidikan saat ini. Di satu sisi, perangkat pintar ini membuka gerbang informasi dan menyajikan inovasi pembelajaran yang tanpa batas bagi para siswa. Namun, di sisi lain, penetrasi digital yang tidak terkendali kerap menjadi hulu dari degradasi moral, mulai dari hilangnya sopan santun, kecanduan game, hingga paparan konten negatif. Fenomena ini tentu menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan, khususnya dalam menilai efektivitas bimbingan spiritual di sekolah.
Di tengah gempuran arus digitalisasi ini, Pendidikan Agama Islam (PAI) memikul tanggung jawab moral yang jauh lebih besar dari sekadar mengajarkan teori ibadah. PAI di sekolah tidak boleh lagi terjebak dalam sekat-sekat hafalan materi atau sekadar formalitas kurikulum demi nilai di atas kertas. Pelajaran ini harus mampu bertransformasi menjadi kompas spiritual yang hidup, yang mampu mengarahkan jemari siswa agar lebih bijak saat menyentuh layar gawai mereka. Esensi utama PAI saat ini adalah membumikan nilai-nilai al-Qur'an dan hadis ke dalam realitas digital yang dihadapi siswa setiap hari.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa gadget sering kali mengaburkan batasan akhlak dan privasi di kalangan pelajar. Karakter tawadhu (rendah hati) dan saling menghormati, yang menjadi pilar utama akhlak islami, perlahan terkikis oleh budaya dunia maya yang cenderung bebas, sarkastis, dan egosentris. Siswa kini lebih mudah terpengaruh oleh tren viral yang tidak mendidik dibandingkan teladan dari guru mereka sendiri. Perubahan perilaku ini sering kali terbawa ke dalam interaksi nyata di kelas, di mana rasa hormat kepada pendidik dan sesama teman mulai memudar akibat fokus yang terbagi dengan layar ponsel.
Kondisi dilematis ini sejalan dengan pandangan Prof. Dr. Naquib al-Attas, seorang ulama dan ahli filsafat pendidikan Islam terkemuka. Beliau menegaskan bahwa inti dari pendidikan Islam adalah ta'dib, yaitu penanaman adab dan pengenalan tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam tatanan ciptaan. Dalam konteks era digital, gagasan al-Attas ini mengisyaratkan bahwa kehilangan adab terjadi ketika siswa gagal menempatkan teknologi sebagai alat (wasilah), dan justru menjadikannya sebagai pusat orientasi hidup (ghayah). Tanpa adanya internalisasi adab, pengetahuan yang diserap siswa dari internet hanya akan melahirkan kecerdasan intelektual yang miskin spiritualitas dan etika.
Oleh karena itu, reorientasi metodologi pengajaran PAI di lingkungan sekolah menjadi sebuah keharusan yang mendesak. Guru PAI dituntut untuk melek teknologi agar dapat mengimbangi gaya hidup generasi z dan alfa yang serba digital. Pembelajaran agama harus dikemas secara interaktif dan kontekstual, misalnya dengan mendiskusikan konsep fiqih informasi (etika bermedia sosial) atau meneladani akhlak Rasulullah dalam menyikapi berita bohong (hoax). Jika penyampaian materi agama masih menggunakan pola lama yang kaku, siswa akan menganggap PAI sebagai pelajaran yang usang dan tidak relevan dengan kehidupan digital mereka.
Selain inovasi dari guru, pihak sekolah dan orang tua juga harus berani mengambil kebijakan tegas yang mendukung penguatan akhlak digital ini. Regulasi mengenai pembatasan penggunaan gawai saat jam pelajaran atau program "literasi digital berbasis islami" perlu diterapkan secara konsisten. Kerja sama antara sekolah dan orang tua dalam memantau rekam jejak digital anak adalah kunci keberhasilan penanaman akhlak. Ketika nilai-nilai islami yang diajarkan di sekolah mendapatkan penguatan berupa keteladanan, disiplin, dan pengawasan spiritual yang konsisten di rumah, maka gawai tidak akan lagi menjadi perusak moral anak.
Pada akhirnya, kita harus menerima kenyataan bahwa gawai digital tidak mungkin dieliminasi sepenuhnya dari kehidupan siswa. Tantangan terbesar Pendidikan Agama Islam hari ini bukanlah bagaimana menjauhkan siswa dari teknologi, melainkan bagaimana menanamkan kesadaran muraqabah—merasa selalu diawasi oleh Allah—ke dalam jiwa mereka saat menggunakan teknologi tersebut. Ketika pondasi keimanan dan akhlak digital ini sudah menghunjam kuat, gadget tidak akan lagi menjadi ancaman bagi moralitas, melainkan akan berubah menjadi sarana bagi para siswa untuk menyebarkan kebaikan dan mengukir prestasi.
***
Penulis Adalah Guru PAI di SMK Bina Utama Kendal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar