![]() |
| Photo by Rahul Pandit |
Belum genap enam bulan aku mengenal Rainaya. Gadis itu, aku selalu menyukai dua lesung pipinya ketika ia tersenyum. Seperti celah-celah sumur kecil berisi air. Sejuk.
Di suatu pagi yang masih berwarna hijau, saat aku tengah mengoperasikan laptop agar segera tersambung ke LCD untuk sebuah workshop kelas inspirasi literasi, Adara mengejutkanku sehingga aku hampir saja terlonjak. Ia memang suka sekali berbuat iseng, semisal sengaja mengagetkanku dengan 'dor!' dari arah belakang.
"Hei, selamat pagi!"
Aku membalas sapaannya yang hangat, sewarna matahari yang bersinar keemasan dari ujung timur.
"Kali ini kau kalah, Ra. Aku tidak kaget, hehe."
"Bohong. Aku tahu kamu terkejut,"
"Omong-omong, siapa yang baru datang ini?"
"Oh, iya. Hampir saja aku lupa. Perkenalkan, namanya Rainaya. Sejak hari ini ia akan bergabung dengan kita ..."
"Tapi Adara tidak sedang melancarkan jurus rayuan mautnya, kan ..."
"Panggil saja aku Naya,"
"Tentu saja, Na ... ya ..."
Aku terbata-bata mengucapkannya. Adara melirik jahil ke arahku. Tetapi aku pura-pura tidak menghiraukannya. Aku baik-baik saja sebelum ini. Aku terus menata gerakan tubuhku agar tidak terlihat gugup.
"Boleh membantu?"
Kepalaku mengangguk tanpa menunggu jeda. Lagi-lagi Adara tertawa, terkekeh-kekeh. Membuatku mesti menahan malu di hadapan kedua gadis itu.
***
"Kamu suka Rainaya, Kaliandra?"
"Memangnya apakah selama ini sikapku menunjukkan tanda-tanda ke arah sana?"
"Tidak terlalu, sih. Tapi aku hanya menebak. Ia gadis yang baik, mungkin saja ... Dan tentu banyak cowok yang juga naksir kepadanya di luar sana. Itu sangat wajar."
"Tidak, Ra. Tidak. Jangan terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan, itu tidak baik dan malah bisa jadi fitnah,"
"Em, Rainaya itu bagian dari serpihan berlian yang langka. Sangat langka."
Belum genap Adara melanjutkan kalimatnya, aku segera memotong dengan tergesa. Entah, seperti ada rasa takut yang tidak terjelaskan. Seolah-olah aku tidak ingin Adara tahu tentang pikiran dan perasaanku yang sebenarnya juga terasa sedikit ganjil.
"Kita ini kan masih siswa kelas XI, Ra. Apa tidak sebaiknya kita fokus dengan sekolah dan aktivitas organisasi saja? Rasanya kita belum perlu memikirkan tentang perasaan."
Adara mengembuskan napas berat, "Terserahmu sajalah, Kaliandra. Toh aku hanya bertanya sebagai sahabatmu. Barangkali bisa membantu." Masih dengan tawa jahilnya yang khas.
Berulangkali perkataan Adara melompat-lompat dalam garis ingatan kepalaku. Ini terasa terlalu cepat jika memang bisa disebut aku menyukai Rainaya jika dibandingkan seberapa jauh aku telah mengenal Adara. Hampir lima tahun perkenalan kami, dimulai sejak kelas VII di sebuah SMP yang sama. Kami memang tidak pernah berencana mendaftar di sekolah yang sama, namun takdir berjalan begitu saja. Begitu juga saat mendaftar SMA, kami bertemu secara tidak sengaja saat mesti menjalani tes wawancara sebelum resmi diterima sebagai siswa baru SMA Pelita Utama.
"Rasanya sudah lama aku tidak melihat Rainaya di basecamp. Apakah dia baik-baik saja, Ra?"
Kami--aku dan Adara tidak bersekolah dalam almamater yang sama dengan Rainaya, meskipun kami mengurus sebuah komunitas yang sama. Komunitas Kelas Inspirasi Literasi, yang memungkinkan para anggotanya saling berbagi tentang apa saja yang berhubungan dengan literasi. Tidak jarang kami menggelar workshop ke sekolah-sekolah lain, taman bacaan, atau di tempat umum semisal alun-alun kota untuk menyuarakan gerakan gemar membaca dan menulis. Tidak jarang kami mendatangkan penulis, pegiat sastra, pustakawan, atau kadang-kadang budayawan.
Aku memang menyukai buku. Segala jenis buku. Jadi aku tidak pernah merasa keberatan meskipun harus menjadi relawan atas sesuatu yang aku sukai. Mungkin benar, jika kita menyukai sesuatu, maka kita akan menjalaninya dengan hati riang dan tanpa beban.
"Ia hanya sedang sibuk. Kamu tidak perlu mencemaskannya."
Entah bagaimana mulanya, aku sangat meragukan pernyataan Adara. Aku tahu benar ketika gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu.
"Aku tidak mencemaskannya, Ra. Aku hanya bertanya."
"Aku tahu kau mencemaskannya."
Sejak saat itu, aku tidak berhenti memikirkan Rainaya. Tentang percakapan yang pernah ada di antara kami, tentang senyumnya, keceriaannya ... Ah, tiba-tiba aku berpikir mesti mencarinya untuk memastikan semua baik-baik saja.
"Kau tahu kenapa ibu memberiku nama Rainaya?"
Tentu saja aku menggeleng, meskipun diam-diam aku tertarik dengan pembahasan yang sedang ia ceritakan. Sesuatu yang barangkali penting. Tentang sebuah sejarah kecil hidupnya.
"Karena Ibu menyukai hujan. Begitu juga aku. Aku tumbuh sebagai gadis yang tergila-gila dengan hujan. Kadang aku membenci payung, meski ia berwarna biru. Dan aku menyukai warna biru."
Tertegun aku mendengar penuturannya. Kali ini ia terlihat berbeda. Wajahnya yang putih segar berubah muram. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Aku harus pulang, Kaliandra. Senja hampir tiba. Ibu pasti menungguku dengan cemas."
Sekelebat bayangan itu membulatkan tekatku bahwa aku harus menemui Adara untuk memastikan bahwa Rainaya baik-baik saja.
Selanjutnya aku merasa lega mendapati Rainaya tengah berada di rumah Adara saat aku berkunjung untuk mengajaknya menemui Rainaya. Meskipun ada sedikit kekesalan pada Adara, aku menyimpannya dalam-dalam. Tenang. Tenang. Kataku pada diriku sendiri.
"Kamu di sini rupanya, Rain ..."
Sejak gadis itu menceritakan latar belakang kenapa ibunya menyandingkan namanya dengan hujan, aku lebih suka memanggilnya Rain daripada Naya. Aku merasakan nama Rain seperti sesuatu yang menekan kuat-kuat melindungi segala yang rapuh di dalamnya.
Mereka tampak terkejut dengan kehadiranku. Kukatakan apakah aku mengganggu. Tidak seorang pun dari keduanya berkata ya atau tidak.
"Kami hampir saja ke rumahmu."
Kali ini aku yang terkejut.
"Untuk apa?"
"Mampir. Bertamu. Masa tidak boleh? Silaturrahmi memperpanjang usia kita, lho."
Tentu saja aku tidak keberatan. Kami melaju dengan motor masing-masing. Setelah sekitar sepuluh menit kami berjalan, akhirnya sampai.
Rainaya menanyakan sebuah nama, si pemilik rumah. Tidak ada. Kami berhenti lama. Tetap tidak ada.
"Rain kok tidak pernah bilang punya saudara di desa ini? Ini kan dekat dengan rumahku. Tidak sampai lima menit."
Adara menyudutkan sikunya ke arahku. Aku tidak tahu dan bertanya dengan suara hampir berbisik, "Ini rumah siapa?"
"Ayahnya Rainaya,"
"Gimana sih maksudnya? Rumah Rain kan di dekat perpustakaan daerah?"
Baru selanjutnya kuketahui, bahwa orang tua Rainaya telah berpisah sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Tiba-tiba aku ingat saat gadis itu keceplosan bahwa dulu ia pernah berencana mendaftar ke SMP tempat aku dan Adara sekolah. Aku agak bingung karena rumahnya begitu jauh dari SMP itu.
Hujan turun, berwarna biru. Rainaya berlari menuju halaman. Adara telah mencegahnya, tapi percuma. Aku melihatnya menari di antara kabut hujan. Seluruh tubuhnya basah. Juga oleh air mata.[]
***
Kendal, 2016Tentang Fina Lanahdiana:
Partikel pemimpi yang menyukai biru dan minum kopi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar