Oleh: Fina Lanahdiana
![]() |
| Illustrated by Pexels |
Kaumara menatap langit dengan gelisah. Jendela di kamarnya terbuka seolah sepotong lubang langit yang sengaja dibuat seseorang agar udara leluasa bertukar kabar. Hari belum lagi gelap atau hendak turun hujan, tetapi ia cemas karena Gandi pergi setelah sebuah perselisihan terjadi di antara mereka.
"Ponselnya tidak aktif, Ma. Tidak biasanya Gandi belum pulang sampai sesore ini. Aku juga sudah mencoba menghubungi Arkan, Stefan, Narayyan ..."
"Lalu apa kata mereka?"
"Mereka tidak sedang bersama Gandi. Tidak seorang pun dari mereka."
"Yakin sudah kamu hubungi semua?"
"Mungkin memang belum. Tapi aku hanya menyimpan nomor mereka. Karena mereka yang kupikir sangat dekat dengan Gandi."
"Mungkin dia sedang butuh sendiri saja, Mara. Kamu memang boleh khawatir, tapi jangan sampai lupa makan yang nanti malah membuat kamu sakit. Kamu belum makan, 'kan?"
"Tapi Mara tidak lapar, Ma."
"Memang akan seperti itu jika pikiranmu tidak tenang. Tapi kalau dibiarkan pun tidak baik lho nanti."
Gadis itu bangkit dengan malas, berlalu setelah sebelumnya memeluk mamanya. Ia menuju dapur. Langkahnya pelan dan tidak bersemangat.
Di meja, tangannya menyendok nasi dengan porsi tidak wajar--mungkin hanya lima sendok makan--sementara porsi lauk lebih mendominasi di atas piring. Capcay kering dengan tambahan bakso dan telur dadar.
"Lho, sejak kapan kamu diet, Mara?"
"Sejak hari ini, Ma."
"Kalau dilihat-lihat kamu ini bukan termasuk gadis yang berkapasitas untuk merancang jadwal diet lho. Kamu ini ...,"
"Kurus maksud Mama? Seperti sebatang korek api yang berjalan?" Mulut Kaumara membentuk runcingan lucu.
Julukan itu telah dihafalnya di luar kepala. Sebab mamanya akan selalu berkata demikian jika ia sedang tidak memiliki nafsu makan yang baik. Bukan benar-benar ingin mengejek, meskipun seolah-olah terlihat demikian.
"Tapi itu sangat manjur kan, membuat kamu menunda jadwal dietmu itu?"
Diet yang dimaksud tentu saja bukan yang sebenarnya. Gadis itu memang kerap tiba-tiba diserang kehilangan nafsu makan.
"Tahu, tidak, Ma. Makanan seenak apa pun tidak ada rasanya kalau pikiran tidak tenang seperti ini."
"Kamu menyesal bertengkar dengannya?"
Kaumara hanya mengangguk pelan, seperti ingin membuat anggukan, tapi juga seperti hendak menggeleng. Diaduk-aduk nasi di atas piring dengan tidak berselera untuk melahapnya.
"Mau dibuatkan susu?"
"Boleh deh, Ma."
Mamanya berlalu, menyentuh pundak dengan lembut, lantas membelai rambutnya yang lurus sepanjang bahu.
"Pakai gula?"
"Mama kan tahu, aku tidak suka susu yang terlalu manis,"
"Mama hanya membuat tawaran. Barangkali seleramu sudah berubah. Lagi pula, semua makanan terasa hambar, 'kan? Mungkin saja kamu butuh gula,"
"Tidak, Ma. Tidak. Biarkan tetap seperti itu, tanpa gula. Biarkan hanya Gandi yang sangat menggilai rasa manis. Aku tidak."
"Sayang ...."
Kedua mata Kaumara tampak redup. Mamanya tahu ia tidak baik-baik saja. Juga mamanya tahu, meskipun putrinya teramat kesal dan menyimpan rasa marah, tapi ia menginginkan Gandi.
"Kamu sayang Gandi,"
"Tidak, Ma. Kami terlalu sering bertengkar untuk bisa disebut saling menyayangi."
"Tidak selalu seperti itu. Kita bisa saja marah, bahkan sangat. Sehingga seolah kita tidak bisa memaafkan seseorang. Tapi kita marah karena kita peduli, 'kan? Peduli artinya apa?"
"Sa...yan... Ah, tidak Ma. Tidak. Aku terlalu sukar memaafkan diriku, mengapa aku sangat sering ingin marah pada Gandi."
"Karena kamu peduli,"
Segelas susu telah terhidang. Sementara nasi di atas piring tetap tidak tersentuh. Gadis itu meraih gelas, dan meneguknya pelan.
"Aku jahat banget ya, Ma?"
"Tidak, Sayang."
Mamanya tersenyum. Seolah telah mengerti semua akan berakhir baik-baik saja.
Segalanya bermula sebab Gandi meminjam buku-buku milik Kaumara yang dibiarkan berserakan dan tidak kembali dirapikan. Beberapa tertempel noda minyak, cokelat, ada pula yang halamannya terlepas. Kamar sudah serupa kapal karam yang dibiarkan menjadi bangkai begitu saja. Kaumara tidak terima dengan kekacauan yang dibuat Gandi. Sehingga ia sangat marah, dan secara spontan menyuruh Gandi untuk menjauh darinya, dari kamarnya, dari barang-barang miliknya.
"Kamu itu perusak, Gandi. Perusak! Kakak tidak habis pikir. Kamu selalu mengulanginya berkali-kali. Kamu anggap kakak ini apa? Kakak sudah susah payah menyisihkan uang tabungan untuk membeli buku-buku itu, hingga rela menahan keinginan jajan si sekolah dan mesti mengisi jam istirahat dengan rasa lapar, kamu mudah banget merusak semuanya. Jauh-jauhlah kamu. Jangan ganggu aku lagi!"
Sudut mata itu basah. Ia menyesali semuanya. Mama benar, ia sayang Gandi. Ia butuh Gandi. Tiba-tiba sekelebat ingatan melintas, tentang mereka yang tertawa bersama, kejar-kejaran, saling meledek, dan tiba-tiba pintu terbuka.
Seorang remaja laki-laki berdiri dengan peluh di sekujur tubuh. Kakinya telanjang. Di pundaknya tercangklong sebuah tas ransel. Napasnya sedikit terengah. Langkahnya terhenti ketika sepasang matanya bertumbukan dengan pandangan Kaumara. Sejenak diam. Sunyi. Bunyi detak jam dinding seolah suara detak jantung yang berkejaran. Wajah remaja laki-laki itu seketika berubah merah. Dingin. Ragu antara terus berjalan atau memilih diam di tempat.
Tanpa aba-aba dari siapa pun, Kaumara memeluk remaja laki-laki itu.
"Gandi, maafkan kakak, ya. Kakak telah bertindak sangat bodoh. Kamu masih lebih penting dari benda-benda itu. Jika benda-benda itu rusak, aku masih bisa mengganti yang baru. Tapi kamu tidak."
Gandi justru tampak linglung. Tidak mengerti apa yang dimaksud Kaumara.
"Ada apa sih, Ma? Gandi kan tidak ke mana-mana,"
"Bukannya kamu baru saja minggat?" gerutu Kaumara.
"Minggat? Emang siapa sih yang minggat? Orang habis latihan futsal kok di sekolah ...."
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar