Oleh: Fina Lanahdiana
![]() |
| illustrated by pexels |
Brak!
"Kamu kenapa, Ane?"
"Marah!"
"Hanan lagi?"
Ane yang saat itu tengah tersungut-sungut merebahkan diri di sofa ruang tamu setelah sebelumnya terlalu keras menutup pintu.
"Baca ini ..."
"Apa itu, Kak?"
"Tujuh cara mempertahankan hubungan ...."
Gadis yang saat ini duduk di bangku kelas sepuluh itu segera menyambar gadget milikku.
"Serius nggak ini? Nanti malah bikin hubunganku dengan Hanan semakin kacau." Bibirnya sedikit maju dan tampak lucu.
Aku hanya mengedikkan bahu sambil melirik ke arahnya. Ia tampak kesal.
"Awas lho kalau gagal. Kakak yang tanggung jawab ya!"
"Mana bisa begitu. Segala sesuatu selalu punya peluang berhasil dan gagal. Bedanya, jika tidak mencobanya secara langsung, kamu tidak akan pernah tahu."
Baru saja ia hendak menyangkal perkataanku, handphone-nya berdering.
"Halo ...? Ya? Eh ... Tapi ...."
Badannya merosot dari sofa, lemas serupa tumpukan jemuran yang minta untuk dibereskan.
"Percuma, Kak."
"Kenapa? Terima telepon bukannya senang malah lemas kayak orang nggak makan seharian."
"The end! Berakhir. Putus. Hanan ...."
Sepersekian detik aku tidak bisa berkata-kata. Jika boleh jujur, aku memang ingin mereka putus. Ya, sebagai kakak yang punya adik perempuan yang sedang berada pada perkembangan masa puber seperti Ane, aku sering merasa was-was. Takut kalau-kalau caranya berhubungan dengan lawan jenis menjadi kebablasan, karena memang dewasa ini fenomena pergaulan bebas di masyarakat semakin menjamur, seperti tanah lembab yang sedang dilanda musim hujan. Tapi, di sisi lain aku juga merasa bersalah karena berdoa buruk untuk hubungan Ane dan Hanan.
Kulihat wajah Ane tampak merah padam, sedikit sesenggukan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kalau ingin menangis, menangislah."
Posisi kami sudah berdekatan. Ane menjatuhkan kepalanya ke bahu kananku. Mau tidak mau, aku mencoba menenangkannya.
"Ane,"
"Ya."
"Kakak mau bilang sesuatu sama kamu. Tapi janji nggak marah ya."
Ane terkejut. Ia menegakkan kepalanya dan menatap serius ke arahku.
"Kenapa?"
"Sebenarnya kakak mau bilang kalau ..."
Tatapan Ane semakin tajam.
"Apa?"
"Tapi serius nggak enak bilangnya."
"Sudahlah, Kak. Buruan bilang atau aku marah nih sama kakak."
"Jangan gitu dong."
Tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Segera kuangsurkan sebuah amplop biru polos kepada Ane.
"Surat?"
"Iya. Surat dari seseorang."
"Hanan?"
"Bukan. Seseorang yang jauh lebih dulu mengenalmu daripada Hanan."
"Uh. Bikin penasaran saja kakak ini."
"Peluk dulu dong?"
"Kok jadi merasa aneh. Kenapa?"
"Peluk dulu, nanti kakak kasih tahu."
"Nggak ah."
"Dibuka dong suratnya."
"Eh? Surat dari Ibu. Kapan sampai?"
"Peluk makanya. Haha."
"Dasar. Tukang paksa."
"Tapi kamu senang, 'kan?"
Hubungan ayah dan ibu memang sedang tidak baik sejak beberapa minggu lalu, mereka sering berselisih paham. Ibu pulang ke rumah nenek dan kami dibiarkan tetap tinggal dengan ayah. Mungkin, jika keadaan sudah membaik, kesalahpahaman ini akan berakhir.
***
Raut bahagia terpancar di wajah Ane setelah ia membaca surat dari Ibu. Kabar Ibu yang dikirim melalui surat itu bukan serta merta tanpa alasan. Di kampung nenek, ibu susah sekali mendapat sinyal bagus untuk menghubungi kami. Jika keadaan sudah seperti itu, maka alat komunikasi yang terbilang tradisional itu bisa dijadikan alternatif.
"Janji ya, kamu nggak akan sedih lagi. Hanan bukanlah siapa-siapa dibandingkan kami, keluargamu."
Gadis itu hanya mengangguk kecil, kemudian memelukku berkali-kali hingga aku merasakan sekujur badanku geli.
"Omong-omong soal sesuatu yang ingin kakak katakan tadi, kalau kakak tidak salah ingat, kamu belum mandi sejak pagi, 'kan? Nah, rasanya sejak tadi kakak mencium aroma yang kurang sedap di sini ...."
Ane langsung melepaskan pelukannya. Ia tampak kesal.
"Aku mandi!"
Enam menit selanjutnya, Ane menghampiriku di ruang tamu. Kini bau harum tercium dari tubuhnya. Rambutnya masih basah.
"Samponya wangi, kak. Tapi kok tumben nggak berbusa ya."
"Sampo yang mana?"
"Yang di botol itu lho."
"Itu kan sabun cair!"
Seketika terdengar keduanya tertawa.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar