Puisi-puisi Vera All Hasanah, S.E., MSi.
![]() |
| Photo by Sebastian Sørensen |
SETITIK CAHAYA REDUP
Tak perlu terlalu terang
Biar redup yang penting tetap menyala
Tak perlu menjadi matahari
Cukup lampu di sudut sepi
Tak perlu terlalu terang untuk meraih kejayaan
Yang penting menyala setiap hari
Karena ....
Yang redup tapi bercahaya
Justru bertahan paling lama.
SEKUNTUM JIWA SUNYI
Jiwaku sekuntum bunga di taman sunyi.
Engkau sibuk menata raga,
menghias tubuh dengan rupa dunia.
Namun, wahai diri,
sudahkah kau selimuti ruhmu
dengan dzikir dan cahaya-Nya?
LUKA YANG DIMULYAKAN SEMESTA
Ia tak benar benar pahit.
Ia melembutkan hati
Ia merobohkan ego
Saat merasa sunyi sepi
Kita dipaksa bersandar pada yang tidak pernah pergi.
Dalam luka,
Doa menjadi lebih jujur
Dan langit terasa lebih dekat.
Tak perlu terlalu terang
Biar redup yang penting tetap menyala
Tak perlu menjadi matahari
Cukup lampu di sudut sepi
Tak perlu terlalu terang untuk meraih kejayaan
Yang penting menyala setiap hari
Karena ....
Yang redup tapi bercahaya
Justru bertahan paling lama.
SEKUNTUM JIWA SUNYI
Jiwaku sekuntum bunga di taman sunyi.
Engkau sibuk menata raga,
menghias tubuh dengan rupa dunia.
Namun, wahai diri,
sudahkah kau selimuti ruhmu
dengan dzikir dan cahaya-Nya?
LUKA YANG DIMULYAKAN SEMESTA
Ia tak benar benar pahit.
Ia melembutkan hati
Ia merobohkan ego
Saat merasa sunyi sepi
Kita dipaksa bersandar pada yang tidak pernah pergi.
Dalam luka,
Doa menjadi lebih jujur
Dan langit terasa lebih dekat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar